pengawet makanan

Tingkat Keamanan Zat Pengawet Makanan

Saya lama tidak menulis untuk blog ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini gairah untuk menulis menurun cukup tajam. Tapi minggu pagi ini, di depan rumah, sedikit ribut. Biasa, ibu-ibu ngrumpi. Bukannya karena nguping, tapi memang suara ibu-ibu ngrumpi yang terdengar cukup keras dari kamar depan membuatku yang tengah bermalas-malasan jadi terbangun. Dan apa yang dirumpikan? Gosip? Ya. Tapi ada juga rumpi yang agak bermutu, soal pengawet makanan. Hebat ibu-ibu komplek perumahanku. Rumpinya berbobot… hi…hi…hi.. Dan ketika sapa pada soal-soal seperti itu, biasanya namaku, nama Apoteker satu-satunya di RT ini disebut-sebut. Dan karena rumpi itulah sedikit banyak pikiranku tergelitik untuk membahas pengawet makanan tersebut.

Pengawet makanan merupakan bahan tabahan yang umum digunakan. Coba baca setiap label makanan kemasan. Dalam label tersebut akan tercantum pengawet makanan yang digunakan. Memang jika makanan menggunakan pengawet makanan, maka hal tersebut harus dicantumlan dalam label. Jika tidak, hal tersebut melanggar regulasi tentang makanan kemasan.

Dan penggunaan yang meluas dalam industri makanan ini, kemudian menimbulkan kekhawatiran. Apa efek samping dari pengawet makanan bagi kesehatan? Dan ini yang menjadi salah satu topik bahasan rumpi ibu-ibu di depan rumahku.

Fungsi Pengawet Makanan

Tentu saja penambahan zat pengawet pada makanan mempunyai tujuan untuk mengawetkan makanan itu sendiri. Kebutuhan ini ini terasa ketika industri makanan dalam kemasan mulai tumbuh. Rentang waktu produksi hingga pemasaran yang cukup panjang membuat tehnik pengawetan makanan sangat dibutuhkan.

Berbagai tehnik pengawetan telah dikembangkan. Namun yang paling populer adalah dengan cara kimia, yaitu dengan penambahan zat-zat tertentu yang dapat mencegah mikroorganisme menguraikan makanan. Sebab jika ini terjadi, makanan akan membusuk.

Tentu saja penambahan zat pengawet mempunyai syarat-syarat tertentu. Utamanya adalah tidak toksik, stabil dalam berbagai pH dan suhu, tidak mempengaruhi rasa, murah dan mudah didapat. Dengan demikian, zat tersebut dapat memenuhi tuntuan industri, yaitu murah untuk diproduksi dan aman untuk digunakan.

Berbagai zat pengawet telah diteliti dan ditentukan keamanannya. Dan sampai saat ini telah digunakan secara luas. Beberapa zat pengawet tersebut diantaranya adalah Sodium Benzoat dan Sodium Nitrat. Kedua bahan pengawet ini yang akan dibahas.

Pengawet Makanan Sodium Benzoat

Sodium benzoat atau disebut juga dengan natrium benzoat merupakan pengawet berbagai jenis makanan dan minuman, terutama yang bersifat asam. Beberapa literatur menyebutkan bahan pengawet ini mempunyai efek samping berupa kanker, hiperaktifitas pada anak dan meningkatkan gejala asma. Resiko kanker akan meningkat jika sodium benzoat digunakan untuk minuman yang bersifat asam. Jika demikian, mengapa bahan pengawet ini masih digunakan?

Meskipun ada studi sodium benzoat mengakibatkan berbagai efek samping, namun studi tersebut belumlah cukup untuk menghentikan penggunaannya sebagai pengawet makanan. Studi yang lain menyebutkan bahwa Natrium Benzoat aman digunakan sebagai pengawet makanan.

Seperti bahan kimia lainnya, ada batas kadar yang diperbolehkan untuk digunakan. FDA membatasi penggunaan Sodium Benzoat pada kadar 0,1% berdasarkan berat. Dibawah kadar tersebut, sodium benzoat secara umum disebut aman untuk digunakan.

Bagaimana jika digunakan pada makanan/minuman yang mengandung vitamin C, apakah tetap aman, mengingat reaksi dengan vitamin C akan merubah Sodium Benzoat menjadi senyawa Benzena yang bersifat karsinogenik? Dalam hal ini, selama pemakaian dibawah kadar 0,1% akan menghasilkan kadar benzena dibawah 5 ppm, yang merupakan batas aman benzena seperti yang ditetapkan oleh WHO.

Oleh karena itu, periksa kadar Sodium Benzoat dalam label kemasan.

Pengawet Makanan Sodium Nitrat

Sodium nitrat, atau diseut juga natrium nitrat, merupakan pengawet yang banyak digunakan dalam makanan yang mengandung protein seperti daging dan ikan kalengan. Diduga, zat ini dapat menyebabkan pengerasan pembuluh darah sehingga meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler, seperti penyakit jantung dan hipertensi. Selain itu natrium nitrat juga mempengaruhi metabolisme gula, sehingga rentan terhadap penyakit diabetes.

Penelitian lain menunjukkan dalam kadar tinggi, natrium nitrat dapat menimbulkan kanker kanker kolorektal, kanker tiroid, kanker pankreas, kanker kerongkongan, kanker lambung, kanker ovarium, kanker darah (leukemia), dan limfoma non-Hodgkin.

Meski demikian, sebagai bahan pengawet, natrium nitrat boleh digunakan dalam kadar 200 ppm dalam produk akhir. Karena sebagai pengawet, sodium nitrat masuk ke dalam tubuh. Namun zat ini tidak terakumulasi, dn dieksresikan melalui urin, dan dikeluarkan sempurna setelah 18 jam. Namun zat ini terdistriusi ke dalam ASI.

Pada manusia, makanan yang menggunakan nitrat sebagai pengawet tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan lansia, serta penderita lesi lambung/usus. Sebab, dapat mempengaruhi konversi nitrat menjadi nitrit yang lebih toksik.

Jadi untuk anak-anak dan lansia, jangan sering-sering konsumsi semua jenis ikan dan daging kalengan ya..

Itu tingkat keamanan bahan pengawet yang banyak digunakan dalam makanan olahan. Meski masih aman, namun isu kesehatan pada penggunaan bahan pengawet cukup sensitif di masyarakat. Namun saat ini telah tersedia tehnik-tehnik pengawetan makanan yang tidak menggunakan bahan kimia pada makanan olahan. Tehnik apa saja itu? Tunggu tulisan berikutnya tho…

Incoming search terms:
  • keamanan natrium benzoat

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>