Kaki Gajah

Sebab, Penularan dan Obat Kaki Gajah

Indonesia adalah negara tropis. Udara yang lembab dengan suhu yang cukup panas membuat merupakan lingkungan yang baik bagi berkembangnya aneka kehidupan. Termasuk juga di dalamnya adalah berbagai parasit penyebab penyakit.

Salah satu yang berkembang biak dengan baik adalah nyamuk. Dan seperti yang sudah banyak diketahui, nyamuk merupakan salah satu vektor penyebaran penyakit malaria dan demam berdarah. Selain kedua penyakit yang cukup populer tersebut, masih ada penyakit lain yang disebarkan oleh nyamuk, yaitu kaki gajah.

Kaki gajah memang kurang populer dibanding malaria atau demam berdarah. Namun ini perlu diwaspadai karena kemungkinan penularan melalui nyamuk. Dan ini berarti seluruh penduduk Indonesia beresiko terkena penyakit ini.

Penyebab Dan Penularan Kaki Gajah

Kaki gajah, atau disebut juga sebagai filariasis, adalah penyakit infeksi oleh parasit nematoda yang mirip cacing, yaitu filaria. Penyakit ini menyerang manusia dan juga binatang. Cacing filaria terdiri dari ratusan jenis, namun hanya delapan spesies saja yang dapat menginfeksi manusia.

Pada manusia, filaria dapat menyerang pada tiga bagian, yaitu filariasis kulit, limfatik dan rongga tubuh. Namun yang akan dibahas adalah filariasis limfatik, yang di Indonesia dikenal dengan penyakit kaki gajah.

Kaki gajah disebabkan oleh infeksi filaria spesies Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Namun yang paling sering menginfeksi adalah W. bancrofti. Sembilan dari 10 penderita kaki gajah disebabkan oleh spesies tersebut.

Filariasis adalah penyakit menular. Penularannya melalui perantara nyamuk. Ketika nyamuk menghisap darah penderita kaki gajah, cacing filaria dapat ikut terhisap. Dan ketika nyamuk tersebut menghisap darah rang lain, maka dapat terjadi penularan. Usia hidup filaria cukup panjang, hingga 7 tahun. Karena itu potensi penularan penyakit ini sangat tinggi.

Gejala Kaki Gajah

Ketika seserang terinfeksi filaria, ciri-ciri, gejala dan tanda-tanda penyakit ini tidak segera terlihat. Dalam tubuh, filaria akan tinggal dalam kelenjar getah bening, tumbuh dewasa dan berkembang biak. Infeksi kelenjar getah bening ini menyebabkan kerusakan pada kelenjar limfa. Kelenjar limfa akan mengeluarkan cairan yang berlebihan dan juga menimbulkan gangguan dalam sistem imun. Filaria juga memblokade kelenjar limfa,menyebabkan pembesaran pada bagian kaki dan organ genitalia.

Dilihat dari gejalanya, filariasis terbagi dalam 3 kategori, yaitu keadaan tanpa gejala, akut dan kronis.Sedanhgkan filariasis akut terdiri dari 2 jenis, yaitu adenolimfangitis akut (ADL) dan limfangitis filaria akut (AFL).

Pada ADL, tanda dan gejala yang timbul adalah demam, pembengkakan getah bening limfadenopati). Bagian yang terinfeksi terasa sakit, memerah dan bengkak. Penumpukan cairan yang terjadi dapat mengundang infeksi jamur pada kulit.

Sedangkan AFL disebabkan oleh cacing filariasis yang telah melemah. Gejala yang timbul berbeda, karena tidak disertai demam, namun dapat muncul benjolan kecil pada beberapa bagian tubuh, seperti pada sistem getah bening atau dalam skrotum.

Pada jenis ketiga, yaitu infeksi kronis, ciri khas penyakit gajah akan muncul dengan jelas, berupa limfadema atau penumpukan cairan pada kaki dan lengan, yang secara kasat mata bagian tubuh tersebut akan membesar, sehingga penyakit ini disebut kaki gajah.

Pembesaran pada kaki dan lengan, juga organ genital,berdampak pada kerusakan dan ketebalan kulit. Penumpukan cairan ini juga mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga resiko infeksi sangat mungkin terjadi.

Obat Kaki Gajah

Tidak banya jenis obat untuk filariasis. Sampai saat ini DEC atau Dietilcarbamazin (Filarzan) merupakan obat pilihan pertama untuk kaki gajah. DEC bekerja dengan cara menghambat metabolisme asam arakhidonat dala filaria sehingga filaria tersebut menjadi rentan/lemah terhadap sistem imun tubuh.

Untuk pengobatan massal, dosis penggunaan DEC adalah 6 mg/kg/BB, yang diberikan bersama dengan albendazol 400 mg (Helben) yang diberikan satu kali tiap bulan selama 12 bulan berturut-turut.

Namun pada tahun 2003, doksisiklin (Arclate, Dumoxin, Interdoxin), suatu antibiotik, digunakan untuk mengobati kaki gajah. Doksisiklin tidaklah aktif terhadap filaria, namun aktif terhadap bakteri genus Wolbachia. Bakteri ini hidup dalam tubuh cacing filaria membentuk suatu simbiosis. Namun apabila bakteri Wolbachia dapat dibasmi, cacing filaria juga akan dapat terberantas pula.

Namun dalam setiap penyakit, pencegahan selalu lebih baik. Karena vektr penyebar cacing filaria adalah nyamuk, maka mmemberantas nyamuk adalah salah satu kunci mencegah penularan dan penyebaran filariasis ini. Untuk itu, jaga kebersihan lingkungan, baik luar maupun dalam rumah.

Incoming search terms:
  • penularan kaki gajah

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>