antiperspirant

Parfum Plus Antiperspirant Solusi Bau Badan?

Saya termasuk jarang nonton tv. Hanya sekali-kali saja, seperti saat ini, sambil menikmati teh hangat, menemani istri nonton sinetron. Meski tak begitu paham jalan ceritanya, ya tetap tak betahkan diri, demi istri loh… Dari acara itu yang tidak ada yang menarik perhatian saya hingga saat jeda, muncul iklan parfum. Dan isriku tiba-tiba saja bertanya.

“Yah, apa bisa parfum mengurangi keringat dan bau badan. Kok itu iklan, parfum katanya bisa menjaga ketiak tetap kering?” Tentu saja saya yang apoteker ini tahu jawabannya. Wong apoteker satu-satunya di RT je…

Parfum Dan Antiperspirant

Ketika tubuh melakukan aktivitas, atau saat suhu udara panas dan lembab, secara alami tubuh mengeluarkan keringat. Hal ini merupakan mekanisme untuk menjaga suhu tubuh tetap normal, yaitu berada pada kisaran 36-37 derajat celcius. Masalahnya, bagi sebagian orang, tubuh menjadi berbau tidak sedap saat berkeringat. Apalagi yang mempunyai masalah keringat berlebih.

Sebenarnya, keringat tidaklah berbau. Namun adanya bakteri yang ada di kulit, yang mengurai keringat tersebut menjadi senyawa yang lebih sederhana, membuatnya menjadi berbau. Daerah tubuh yang menjadi sumber bau badan ini adalah daerah lembab seperti pada ketiak. Pada daerah ini, selain terdapat rambut, juga banya kelenjar keringat dan keadaannya lembab karena berada di lipatan kulit. Bakteri banyak terdapat di bagian tubuh ini. Karena itu salah satu cara untuk mengurangi/mencegah bau badan adalah dengan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan daerah ketiak.

Namun meski telah menjaga kebersihan, bau badan masih juga muncul. Banyak orang kemudian memilih mengunakan parfum untuk menutupi bau badan tersebut. Efektif? Untuk sementara ya. Namun semakin lama, aroma parfum akan bercampur dengan bau badan. Dan aroma yang dihasilkan dari pencampuran ini justru semakin tidak karuan.
Jika menggunakan parfum tidak mencukupi, cara lain untuk mengurangi/mencegah bau badan adalah dengan menggunakan antiperspirant.

Apa Itu Antiperspirant?

Antiperspirant adalah sebuatan untuk produk yang dapat menghentikan sementara keluarnya keringat. Produk semacam ini digunakan untuk mencegah keringat berlebih yang dapat menimbulkan bau badan. Pada produk yang beredar, antiperspirant digabung dengan parfum agar praktis dalam penggunaannya. Bentuk sediaanya dapat berupa spray, stik maupun roll on.

Senyawa aktif yang digunakan pada antiperspirant adalah garam alumunium, seperti Aluminium Klorida, Aluminium Zirconium Triklorohidrex glisin, Aluminium Klorohidrat dan Aluminium Hidroksibromida. Senyawa tersebut, jika diaplikasi pada kulit, misalnya pada ketiak, jika terkena keringat, akan membentuk gel yang menutup kelenjar keringat tersebut. Dengan cara ini, pengeluaran keringat dapat dihambat untuk sementara. Seiring dengan waktu, jika peroduksi keringat terus terjadi, lapisan gel tersebut dapat “lepas” dari kulit dan tidak dapat menghambat keringat kembali. Karena itu, pemakaian antiperspirant memerlukan pengulangan setelah beberapa waktu.

Jika antiperspirant dikombinasikan dengan parfum (deodorant) maka hasilnya akan lebih baik; bau badan hilang berganti wangi parfum dan keringat berkurang. Produk semcam ini banyak tersedia, diantaranya adalah Rexona Invisible Dry, The Body Shop White Musk Antiperspirant Deodorant, Nu Skin Scion Whirening Roll On Deodorant dan merek lainnya.

Adakah Efek Samping Antiperspirant?

Ditemukannya ion alumunium pada sel kulit yang diaplikasi antiperspirant menimbulkan kekhawatiran, apakah penggunaannya dapat menimbulkan efek samping? Dalam hal ini beberapa hal perlu ditelaah.

Pertama, antiperspirant bekerja dengan menutup pori-pori tempat keluarnya keringat. Jika hal ini terjadi terus menerus dalam jangka lama, mungkin dapat terjadi peradangan pada kelenjar keringat.

Kedua, penggunaan senyawa alumunium dalam antiperspirant dikatkan dengan kanker payudara. Alasannya adalah kanker seringkali tumbuh di bagian atas dekat dengan ketiak, tempat diaplikasikannya antiperspirant tersebut. Alumunium dalam lapisan kulit dikhawatirkan berinteraksi dengan DNA atau mempengaruhi estrogen, yang kedua hal tersebut dikatkan dengan tumbuhnya kanker payudara.

Beberapa studi yang lain justru menunkjukkan bahwa tidak ada bukti yang dapat dipertanggung jawabkan jika antiperspirant menyebabkan kanker. Secara singkat dikatakan antiperspirant tidak menyebabkan kanker.

Ketiga, pada tahun 1960an, studi menemukan adanay kandungan alumunium yang tinggi pada penderita penyakit Alzheimer. Penemuan ini membuat keamanan senyawa alumunioum dalam antiperspirant dipertanyakan. Namun studi lanjutan membuktikan jika antiperspirant tidak ada hubungannya dengan penyakit alzheimer.

Keempat, pada orang yang menderita penyakit ginjal. Kemampuan ginjal dalam membersihkan darah pada keadaan ini tentu berkurang. Pengeluaran senyawa alumunium, pada pasien gagal ginjal tidaklah berlangsung dengan cepat, sehingga alumunium dapat terakumulasi dan menyebabkan dementia. Karena itu, senyawa alumunium dalam antiperspirant, meskipun sedikit terserap pada kulit, tetap tidak boleh digunakan oleh pasien gagal ginjal. Meskipun pada realitanya, sangat kecil kemungkinan alumunium dalam antiperspirant terserap hingga sampai ke ginjal.

Karena itu, singkatnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam penggunaan antiperspirant, kecuali untuk kulit sensitif. Pada kulit sensitif, penggunaan antiperspirant dapat menyebabkan ruam kulit yang parah. Untuk keadaan ini, ya mau gimana lagi?

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>