osteomielitis

Osteomielitis, Ketika Tulang Mengalami Infeksi

Berapa lama aku ndak nulis di blog? Sebulan lebih ternyata. Kesibukan, baik karena pekerjaan maupun organisasi, akhir-akhir ini menyita pikiran. Belum lagi kondisi kesehatan yang cenderung labil ditengah musim panca roba. Maka lengkaplah; kombinasi sibuk dan drop, yang menyita waktu hingga tidak sempat menulis.

Tapi pagi ini adalah pagi pertama saya bisa terbangun dalam kondisi yang lumayan, setelah hampir 1 minggu tepar. Untuk memulihkan kondisi, saya olahraga ringan, jalan-jalan di sekitar perumahan. Rasanya beda, antara tubuh dalam kondisi sehat dan dalam tahap pemulihan. Baru jalan sedikit saja, badan sudah terasa capek.

“Pak T… ke mana saja ini. Lama tidak kelihatan. Juga ndak pernah pingpong to..”, sapa Pak Joko begitu saya jalan di depan rumahnya pagi itu. Saya tersenyum saja dan menjawab sekedarnya. Kadang saya malu bercerita kalau habis sakit. Wong apoteker satu-satunya di RT kok tepar…

“Pak T, tahu ndak, kalau Pak Broto kena flu tulang. Katanya nyeri sekali. Apa tho penyakit itu. Apa artinya tulang bisa pilek gitu?”, tanya Pak Joko lagi setelah ngobrol ngalor ngidul sambil jalan pagi. Wadhuh… pertanyaan seperti ini alamat saya akan lama ngobrolnya…

Infeksi Tulang

Apakah tulang bisa terkena infeksi? Meski jarang, bukan berarti tulang tidak dapat terkena infeksi. Justru ketika ada bakteri pada tulang, penanganannya dapat menjadi sulit. Memerlukan tindakan dan pengobatan yang cukup lama. Orang awam kadang menyebut infkesi pada tulang ini sebagai flu tulang. Sedangkan istilah medis untuk hal ini adalah oteomielitis.

Osteomielitis atau yang secara awam disebut flu tulang adalah infeksi pada tulang. Infeksi ini dapat terjadi karena penyebaran bakteri melalui peredaran darah ataupun penyebaran infeksi melalui jaringan yang dekat dengan tulang. Infeksi juga dapat terjadi karena memang tulang terpapar bakteri, virus atau janur akibat luka. Bakteri yang menyebakan infeksi tulang adalah Pseudomonas aeruginosa, yang mencapai 90 persen kasus. Bakteri lain adalah Staphylococcus aureus.

Pada anak-anak, osteomielitid sering terjadi pada tulsng ysng panjang dseperti tulsng kaki dan lengan. Pada dewasa, sering terjadi pada tulang belakang dan tulang sekitarnya. Pada penderita diabates, tulang kaki merupakan tulang yang paling sering terkena ostromielitis ini.

Gejala yang dialami infeksi tulang ini secara umum adalah demam dan rasa sakit pada tulang. Pada infeksi akut, demam dapat terjadi tiba-tiba dan area yang terinfeksi akan membengkak. Penderita akan kesulitan untuk bergerak dan adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening dekat area infeksi.

Sedangkan pada infeksi kronis, selain rasa nyeri, juga terjadi rasa lelah terus-menerus, adanya nanah yang mengalir dari area sinus, pembengkakan, perubahan kulit, dan tubuh mengalami rasa panas dingin yang berubah-ubah.

Meski sering dikatakan osteomielitis ini merupakan penyakit yang cukup sulit ditangani, namun saat ini dapat diatasi dengan tuntas, baik dengan pengobatan maupun prosedur operasi untuk menghilangkan baian tulang yang terinfeksi.

Pengobatan Osteomielitis

Prosedur yang palingn sering dilakukan terhadap osteomielitis adalah operasi yang meliputi:

Pengeringan Daerah Infeksi. Hal ini dilakukan dengan membuka daerah yang terinfeksi dan mengeluarkan nanah atau cairan lain yang terakumulasi sebagai akibat dari infeksi.

Menghilangkan Tulang atau Jaringan Yang Rusak. Prosedur ini dinamakan debriment. Prosedur ini menghilangkan bagian tulang, atau jarngan disekitarnya yang mengalami terinfeksi.

Memperbaiki Aliran Darah. Aliran darah yang terhambat ke bagian tulang yang terinfeksi dapat memperparah infeksi tersebut. Perbaikan aliran darah dapat dilakukan dengan melakukan bone graft atau tissue graft, dengan malakukan penggantisan jaringan yangrusak dengan mengambil tulang atau jaringan lain. Tindakan ini akan memperbaiki aliran darah dan mempercepat pembangunan tulang.

Amputasi. Ketika tulang telah mengalami infeksi yan parah, tindakan amputasi mungkin dilakukan.

Selain dengan operasi, pengobatan osteomielitis akut yang terdiagnosis secara dini dapat diobati dengan menggunakan antibiotik kurang lebih selama 4-6 minggu. Pemberian antibiotik dilakukan melalui intravena. Namun bila penderita telah mengalami peningkatan, antibiotik dapat diberikan secara oral.

Jenis antibiotik yang digunakan disesuaikan dengan jenis bakteri penyebab infeksi, seperti terlihat pada tabel di bawah ini:

Untuk bakteri anareobs, obat pilihan adalah Clindamycin, 600 mg IV setiap 6 jam dan Ticarcillin/clavulanate (Timentin), 3.1 g IV setiap 4 jam. Alternatif lain adalah Cefotetan (Cefotan), 2 g IV setiap 12 jam dan Metronidazole, 500 mg IV setiap 6 jam.

Bakteri Enterobacteriaceae (e.g., Escherichia coli), quinolone-resistant, antibiotik yang digunakan adalah Ticarcillin/clavulanate, 3.1 g IV setiap 4 jam dan Piperacillin/tazobactam (Zosyn), 3.375 g IV setiap 6 jam. Sebagai alternatif adalah Ceftriaxone, 2 g IV setiap 24 jam.

Pada bakteri Enterobacteriaceae, quinolone-sensitive, antibiotik pertama adalah Fluoroquinolone (e.g., ciprofloxacin [Cipro], 400 mg IV jam 8-12 jam).

Bakteri Pseudomonas aeruginosa obat antibiotik pilihan pertama adalah Cefepime, 2 g IV setiap 8-12 jam ditambah ciprofloxacin, 400 mg IV setiap 8-12 jam dan Piperacillin/tazobactam, 3.375 g IV setiap 6 jam, diatmbah ciprofloxacin, 400 mg IV setiap 12 jam. Antibiotik alternatif lain adalah Imipenem/cilastatin (Primaxin), 1 g IV setiap 8 jam, ditambah aminoglycoside.

Sedangkan bakteri Staphylococcus aureus, methicillin-resistant, antibiotik yang digunakan adalah Vancomycin, 1 g IV setiap 12 jam. Untuk yang alergi terhadap vancomycin: Linezolid (Zyvox), 600 mg IV setiap 12 jam. Alternatif lain adalah Trimethoprim/sulfamethoxazole (Bactrim, Septra), 1 double-strength tablet setiap 12 jam, Minocycline (Minocin), 200 mg oral, kemudian dilanjutkan dengan 100 mg setisp hari dan Fluoroquinolone (e.g., levofloxacin[Levaquin], 750 mg IV sehari ditabah rifampin, 600 mg IV setiap 12 jam.

Untuk bakteri S. aureus, methicillinsensitive, obat antibiotik pilihan pertama adalah Nafcillin Atau oxacillin, 1 to 2 g IV setiap 4 jam dan Cefazolin, 1 to 1.5 g IV setiap 6 jam. Pilihan lain adalah Ceftriaxone, 2 g IV setiap 24 jam dan
Vancomycin, 1 g IV setiap 12 jam.

Sedangkan untuk Streptococcus species, pilihan pertama adalah Penicillin G, 2-4 juta units IV setiap 4 jam. Pilihan lainnya adalah Ceftriaxone, 2 g IV setiap 24 jam dan Clindamycin, 600 mg IV setiap 6 jam.

Dengan terapi antibiotik tersebut, prosedur operasi mungkin dapat dihindari, namun infeksi dapat diatasi sampai tuntas.

Incoming search terms:
  • obat antibiotik untuk infeksi tulang
  • Pertanyaan tentang osteomielitis
  • antibiotik untuk osteomielitis
  • harga obat antibiotik untuk osteomielitis
  • infeksi tulang

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>