alergi gandum

Mengatasi Alergi Gandum

Setidaknya aku tahu kalau nyonya rumah tetangga sebelah setiap hari mengkonsumsi roti. Entah karena doyan, suka atau gaya hidup. Sebab Jeng Ani, nama tetangga sebelah itu, cukup jarang makan nasi. Ini tentu saja tidak umum di RT ku, yang warganya Indonesia asli dan makan nasi.

Kebiasaan makan roti Jeng Ani sangat bertolak belakang dengan suaminya, yang justru tidak tahan terhadap roti. Dan penyebabnya adalah Om Tanto, suami Jeng Ani,  alergi sama gluten yang terdapat pada gandum. Penderita alergi ini jelas tidak mungkin mengkonsumsi roti yang bahannya terbuat dari gandum. Bisa menjadi problem, karena pasti akan timbul gangguan kesehatan.

Dan karena sebab itulah Jeng Ani bercerita padaku. “Apa bisa diobati Pak T, masa saya makan roti, suami maunya makan nasi. Kan nggak macthing. Masa istrinya makan roti, suaminya maunya makan nasi. Nggak modern banget dech..”, keluhnya. Mendengar masalahnya, saya hanya tersenyum, sekaligus bercermin pada diri sendiri, yang mempunyai selera kampung, nggak suka sama roti dan keju.

Alergi Gandum (Gluten)

Dalam gandum, terdapat sejenis protein yang disebut dengan gluten. Pada beberapa orang penderita “celiac disease”, gluten ini menimbulkan masalah pencernaan. Hal ini terjadi karena gluten akan memicu terjadi respon immunologik pada usus. Akibatnya terjadi gangguan pada usus yang menyebabkan terjadinya diare dan gangguan penyerapan makanan (mal absorpsi). Pada anak-anak, selain gangguan pencernaan, juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.

Penyebab celiac disease ini tidak diketahui dengan pasti. Beberapa faktor kemungkinan terlibat, diantaranya adalah faktor genetik. Anak dari orang tua yang mempunyai penuakit ini cenderung mempunyai penyakit yang sama. Apalgi ditamba dengan faktor lingkungan, seperti infeksi usus, dapat memicu gen pembawa celiac disease untuk aktif. Sedangkan adanya gluten akan memicu respon sistem imun yang abnormal.

Ketika sistem imun bereaksi abnormal, hal ini akan merusak villi usus halus. Jika villi ini terganggu, maka proses penyerapan makanan juga akan terganggu, apapun makanannya.

Gejala yang paling umum dari alergi gluten dalam gandum tersebut adalah diare, kembung, berat badan turun, mual, muntah dan sembelit. Namun pada orang dewasa, separuh penderita mempunya gejala yang tidak ada hubungannya dengan gangguan pencernaan seperti anemia defesiensi besi, osteoporosis, kelelahan, sakit kepala, kerusakan gigi, gangguan syaraf dan ruam pada kulit.

Obat Alergi Gandum

Apakah alergi gandum ini dapat diobati? Dengan berat hati, jawaban pertanyaan tersebut adalah sampai saat ini belum ada obat untuk celiac disease. Namun bukan berarti penyakit tersebut tidak dapat dikelola dengan baik.

Kunci untuk mengelola alergi gandum adalah denhan menghindari makanan yang terbuat dari gandum. Artinya penderita celiac disease berpantang makan roti, pasta atau mie, makanan yang digoreng dari tepung dan makanan dari gandum lainnya. Untuk orang Indonesia, diet bebas gluten relatif tidak terlalu berat, sebab gandum bukanlah maakanan pokok di Indonesia.

Bagaimana jika sengaja mengkonsumsi makanan dari gandum, bagaimanan selanjutnya? Segera setelah makan, penderita celac disease akan segera merasakan nyeri pada perut. Beberapa penderita tidak merasakan rasa sakit sama sekali, namun bukan berarti tidak ada kerusakan dalam usus. Karena itu segera hentikan makan makanan dari gandum tersebut.

Obat yang dapat diberikan adalah abat kelompok kortiko steroid untuk mengatasi reaksi alergi yang terjadi. Pemberiannya, jika melalui oral tidak efektif, dilakukan melalui injeksi.

Kerusakan villi usus akibat gluten akan membaik dalam jangka waktu yang bervaiasi. Bisa mencapai 1 minggu hingga beberapa bulan. Proses pemulihan ini akan lebih cepat terjadi pada anak-anak dibandind dewasa.

Selama proses pemulihan villi tersebut akan terjadi gangguan penyerapan makanan. Karena itu konsumsilah suplement makanan seperti vitamin dan mineral, meliputi :

  • Kalisum
  • Asam Folat
  • Besi
  • Vitamin B12, D dan K
  • Seng

Suplemen tersebut umumnya berbentuk tablet atau kapsul. Jika terdapat gangguan/kesulitan dalam absorpsi di usus, maka suplemen tersebut dapat diberikan melalui injeksi.

Jadi, untuk mengelola alergi gandum atau celaic disease ini, diet ketat bebas gluten merupakan “cara hidup” yang harus dijalani, agar tidak terjadi gangguan kesehatan karena alergi tersebut.

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>