lemak trans

Efek Buruk Lemak Trans Pada Kesehatan

Pernahkah anda perhatikan pada label kemasan jajanan untuk anak anda? Cobalah teliti pada kandungan makanan, apakah ada lemak trans?

Mungkin tidak semua produk mencantumkan lemak trans dalam labelnya. Sebab lemak trans bisa saja disebut sebagai lemak nabati yang terhidrogenasi, shortening, atau lemak terhidrogenasi. Sebetulnya istilah tersebut merujuk pada satu jenis lemak, yaitu lemak trans.

Selain pada jajanan, lemak trans juga selalu ada dalam makanan, terutama makanan cepat saji, yang digoreng. Penggunaan lemak trans ini menyebabkan makanan lebih bertekstur, gurih dan lebih awet.

Beberapa negara telah melarang penggunaan lemak jenis ini dalam makanan. Tapi di Indonesia, lemak trans masih diperbolehkan. Bagi kita, konsumen, tak ada salahnya bersikap kritis, sebab hasil penelitian memang menunjukkan lemak trans memberikan efek buruk pada kesehatan.

Apa Itu Lemak Trans?

Lemak trans merupakan salah satu jenis dalam minyak nabati. Pada umumnya, lemak nabati, seperti minyak jagung, kedelai, bunga matahari adalah minyak tak jenuh dengan susunan kimia cis.

Minyak adalah secara kimia, adalah suatu rantai hidrokarbon yang tersambung melalui ikatan tunggal atau rangkap. Ikatan rangkap berada dalam 2 isomer, yaitu cis dan trans. Posisi cis apabila letak atom yang berikatan adalah sejajar, sedangkan trans apabila posisi ikatan berseberangan.

Dalam proses pengolahan makanan, minyak jenuh merupakan hasil dari hidrogenasi seluruhnya atau parsial, untuk memperoleh titik beku yang diinginkan, biasanya 30-40 derajat celcius. Pada proses hidrogenasi tersebut, dapat tercipta lemak trans.

Selain melalui proses hidrogenasi dalam industri, lemak trans juga dapat tercipta dari proses memasak di rumah. Pada saat menggoreng, secara kimia minyak juga mengalami hidrogenasi yang memungkinkan tercipta lemak trans. Semakin lama minyak digunakan, semakin banyak pula lemak trans yang dikandungnya. Pada semua makanan yang digoreng, dapat dipastikan terkandung lemak trans.

Adanya lemak trans mempunyai keuntungan dan kerugian sekaligus. Keuntungan yang paling jelas adalah lemak trans membuat makanan menjadi berasa gurih, renyah dan lebih awet. Namun kerugiannya adalah lemak trans dapat meningkatkan resiko penyakit jantung koroner, meningkatkan LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan HDL (kolesterol baik).

Karena efek kesehatan yang buruk itulah, FDA mengkatagorikan lemak trans sebagai bahan makanan yang tidak aman. Hal ini memicu penggunaan lemak trans dalam industri di beberapa negara. Tapi di Indonesia, masih diperbolehkan. Jadi kita harus berhati-hati.

Makanan Yang Mengandung Lemak Trans

Makanan yang kita kenal sehari-hari, kadang diiklankan mengandung gizi yang baik dan menyehatkan. Margarine dan mentega contohnya. Banyak orang yang kemudian mengira bahwa dengan mengganti minyak goreng dengan mentega atau margarin, mereka akan mendapatkan makanan yang jauh lebih sehat, terhindar dari lemak jahat. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Mentega dan margarine adalah salah satu bahan makanan yang mengandung lemak trans dalam jumlah yang cukup tinggi.

Selain mentega dan margarine, lemak trans juga terkandung dalam makanan yang digoreng, pancake, waffle, daging, es krim, biskuit, cracker dan makanan dalam kemasan.

Dengan penggunaan lemak trans yang meluas dalam industri pengolahan makanan, maka menjadi sangat sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari lemak trans. Meski begitu, ada alternatif, meski sedikit ribet.

Solusi Pengurangan Penggunaan Lemak Trans

Beberapa minyak diketahui mempunyai tingkat keamanan yang lebih baik dibanding lemak trans. Minyak tersebut adalah minyak sawit dan minyak teresterifikasi, dan beberapa minya nabati lain seperti minyak kedelai, jagung dan biji matahari.

Meski relatif lebih baik, namun harus diingat adalah bagaimana penggunaannya. Jika digunakan untuk memasak, pakailah minyak yang selalu baru. Pemanasan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan minyak mengalami hidrogenasi. Jika hidrogenasi tersebut berlangsung sempurna, tidak masalah. Namun jika berlangsung sebagian, maka akan tercipta lemak trans.

Dan yang paling penting, hindari makanan yang diolah dengan menggunakan minyak, seperti gorengan. Rebus makanan anda, dan anda akan terbebas dari lemak trans.

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>