badan keringatan, bau keringat

Badan Keringatan Tapi Tak Berbau, Itu Tidak Normal

Satu hal yang saya sadari betul setelah selesai pingpong adalah bau asem dari tubuhku sendiri. Anak-anak biasa ribut kalau saya dekati. Ayah bau kecut… katanya. Istriku? Tak komentar, tapi segera ambilkan handuk dan bilang “Ayah mandu dulu”. Betul memang, setelah mandi, anak-anak oke saja saya peluk. Demikian juga istriku, ndak masalah kalau aku dekati.

Persoalan bau badan karena keringatan sehabis olahraga memang selalu selesai setelah saya mandi. Sehari-hari juga tidak ada masalah dengan bau badanku meskipun saya jarang pakai parfum. Tapi ada rasa kepo sedikit juga, bisakah badan keringatan tanpa menimbulkan bau?

Keringat dikeluarkan tubuh sebagai mekanisme pengaturan suhu badan. Jika beraktivitas, suhu badan naik. Untuk menjaganya tetap normal, tubuh mengeluarkan keringat agar suhu tubuh turun. Keringat sendiri disekeresikan melalui kelenjar ekrin dan apokrin.

Kelenjar ekrin terletak di seluruh permukaan tubuh, sedangkan apokrin terletak di daerah ketiak dan daerah urogenital. Diantara kedua jenis kelenjar tersebut, kelenjar apokrin merupakan kelenjar yang sangat aktif, terutama yang terdapat di daerah ketiak. Itulah sebabnya, daerah ketiak adalah daerah yang paling banyak menghasilkan keringat.

Sebenarnya keringat tidaklah berbau. Kandungan keringat adalah garam, protein, lemak dan zat hasil metabolisme. Dalam keringat juga terkandung hormon. Masalah bau badan timbul ketika bakteri Propionibacterium sp dan Staphlylococcus sp yang berada dikulit memetabolisme kandungan yang ada dalam keringat. Hasilnya adalah senyawa turunan asam propionat dan asam iso valerat yang berbau kecut dan tidak sedap. Jadi bau badan bukan hasil dari keringat, namun hasil dari kerja bakteri yang terdapat di kulit.

Jadi adakah orang yang keringatan tapi tidak berbau? Ada ternyata. Hal ini justru terjadi akibat cacat genetik, seperti yang dirilis oleh American Chemical Society, yaitu ketidak normalan dalam proses transpor protein sehingga dalam keringat tidak dapat protein yang dapat dimetabolisme bakteri. Keringat jadinya tidak berbau.

Sekitar 2 persen penduduk Eropa mempunyai kelainan ini. Sedangkan di Jepang dan China, justru yang mempunyai kelainan ini merupakan mayoritas. Meski keringat tidak berbau, ternyata mereka sering memakai parfum karena alasan sosial.

Jadi jelaslah sudah, orang yang keringatnya tidak berbau justru tidak normal. Yang normal itu yang berbau. Entah kenapa setelah mengetahui fakta ini, saya menjadi sedikit lega. Ada sedikit pembenaran jika anak atau istri komplain tentang bau badan.

Meski sedikit ada pembelaan, bukan berarti saya tidk rajin mandi. Kebersihan adalah kunci untuk mengendalikan bau badan untuk orang normal seperti saya. Soal parfum? Kadang saya pakai.

Setidaknya dalam urusan bau badan ini ada 2 jenis yang saya pakai. Yang pertama adalah deodoran dan yang kedua adalah antiprespiran. Keduanya berbeda cara kerjanya.

Deodoran, disamping mengandung parfum wangi, juga mengandung antiseptik yang dapat mematikan bakteri penyebab bau badan. Sedangkan antiprespiran, selain wewangian, juga mengandung zat yang dapat mencegah terjadinya keringat. Banyak tho parfum jenis ini yang diiklankan di berbagai media? Jadi tinggak pilih sesuai kebutuhan dan kantong.

Kalau saya, lebih memilih mandi dengan sabun antiseptik dan gunakan deodoran seperlunya. Kalau pakai antiprepiran, sering ada pikiran “Keringetan kok dilarang. Keringatan itu bukan dosa, Itu normal”.

Badan berbau juga normal. Asal jangan kelewatan. Keringatan tapi tak berbau, itu abnormal.

Incoming search terms:
  • bau keringat normal
  • keringat yang tidak normal
  • parfum bau asem

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>