alergi kerang

Alergi Makanan Dan Pengobatannya

Pagi ini suasana kerja seperti biasanya. Sibuk karena hari senin. Di banyak tempat, jika hari senin selalu lebih sibuk dibanding hari-hari lain tho? Tapi ada yang beda. Bang Togar, aku memanggilnya demikian, bagian administrasi, seperti tidak tenang bekerja. Sebentar-sebentar menggaruk punggungnya.

“Kenapa Bang. Gatal punggungnya. Nggak mandi berapa hari?”, godaku.

“Waduh Pak T ini. Mandi terus ini. Cuma tadi malam aku makan sea food. Habis udang sama kerang cuma seporsi. Perut kenyang. Tapi setelah itu, badan terasa gatal semua. Merah-merah ini di punggung”, jawab Bang Togar, dengan gaya Batak yang terkontaminasi logat Jawa. Dan ceritanya lagi, dia memang begitu kalau makan udang. Selalu gatal. Tapi dasar suka, meski gatal, tetap saja dia makan udang dan kerang.

“Bagaimana Pak T, ada nggak obat alergi udang dan kerang yang cepat, biar gatalnya segera hilang ini”, kata Bang Togar lagi.

Ooo, Bang Togar lagi kena alergi, tepatnya alergi udang. Dan secara umum, itu disebut dengan alergi makanan. Soal obatnya? Itu gampang..

Alergi Makanan

Seperti alergi lainnya, alergi makanan merupakan respon tubuh yang keliru terhadap protein makanan, dan mengganggap protein tersebut sebagai benda asing atau ancaman. Karenanya, tubuh memberikan reaksi, dalam kasus ini, adalah reaksi alergi. Paling umum, reaksi ini berupa munculnya ruam dan gatal di kulit.

Sebenarnya, alergi makanan ini dibagi, berdasarkan pemicu dan jangka waktu munculnya gejal, dalam 3 jenis, yaitu Immunoglobulin E, non immunoglobulin E dan kombinasi keduanya.

Immunoglobulin E merupakan salah satu antibodi yang terdapat dalam tubuh. Alergi makanan yang dipicu oleh antibodi ini merupakan alergi makanan yang paling umum. Gejala biasanya berlangsung tidak lama setelah makan makanan yang menyebabkan alergi.

Sedangkan alergi yang dipicu oleh antibodi selain immunoglobulin E biasanya terjadi dalam rentang waktu yang lebih lama, dapat berjam-ja setelah makan.

Sedangkan alergi jenis ketiga, gejala yang terjadi merupakan kombinasi dari kedua jenis alergi makanan tersebut di atas.

Gejala Alergi Makanan

Gejala alergi makanan yang paling umum, yaitu yang dipicu oleh immunoglobulin E, muncul segera setelah makan. Gejala tersebut berupa gatal dan ruam di kulit, kesemutan, gatal di rongga mulut, sulit menelan, pembengkakan pada wajah, mulut, bibir dan bagian tubuh lainnya. Ruam yang terjadi pada kulit sangat gampang untuk dikenali.

Namun unuk alergi makanan yang dipicu oleh non immunoglobulin E, gejala yang timbul bisa mirip, yaitu ruam dan gatal, namun tektur ruam cukup samar untuk dikenali. Selain itu juga sering timbul gejala seperti eksim atopik, berupa kulit yang pecah-pecah, kering, memerah dan gatal. Gejala lain juga bisa timbul, namun mirip dengan gejala penyakit lainnya, yaitu:

  • Derah sekitar kelamin dan dubur berwarna kemerahan.
  • Gangguan pencernaan.
  • Nyeri ulu hati.
  • Sembelit.
  • Frekuensi buang air besar meningkat.
  • Adanya lendir atau darah pada feses.
  • Kulit pucat.
  • Rewel pada bayi.

Meski secara umum alergi makanan tidak menjadi masalah serius, namun pada kondisi tertentu dapat terjadi anafilaksis, yaitu suatu keadaan alergi parah yang ditandai dengan syok, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba dan dapat menjadi fatal.

Makanan Penyebab Alergi

Pada dasarnya, semua makanan berpotensi membuat alergi. Apakah itu alergi makan nasi, telur, roti, ikan, udang, cumi-cumi, kacang dan lain sebagainya. Namun dari semua makanan, alergi makan seafood lebih sering terjadi.

Pada ana-anak, alergi karena makan kacang lebih sering terjadi. Gejala yang timbul biasanya merupakan campuran antara yang dipicu oleh immunoglobulin E dan non immunoglobulin E, paling sering berupa bengkak dan sembelit.

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan resiko alergi makanan. Jika menderita alergi terhadap selain makanan, seperti biduran, maka resiko alergi makanan juga meningkat. Demikian juga pada penderita asma. Makanan tertentu bahkan dapat menimbulkan alergi yang mencetuskan asma.

Usia jua berperan penting. Bayi dan anak-anak memiliki resiko yang lebih besar terhadap alergi makanan. Meski dengan perkembangan usia alergi ini dapat hilang, namun sewaktu-waktu masih dapat muncul kembali ketika telah dewasa.

Pengobatan Alergi Makanan

Pada dasarnya, pengobatan alergi makanan tidaklah menyembuhkan. Obat alergi hanya menghilangkan gejalanya. Cara terbaik adalah menghindari makanan pemicu alergi.

Ketika terjadi alergi, obat yang digunakan sama dengan obat anti alergi lainnya. Obat anti alergi dapat dibaca di Obat Alergi Kulit, yang digunakan untuk mengobati alergi ringan. Namun untuk anafilaksis, obat yang diberikan adalah adrenalin yang diberikan dengan cara intra vena (suntik) untuk menaikkan tekanan darah dengan cepat.

Maka itulah, aku berikan saja pada Bang Togar CTM sebagai obat anti alergi udang dan kerang yang dia makan. Selain murah, CTM juga efektif meski bikin ngantuk.

admin

Teguh IW, seorang farmasis, suka menulis, ingin menjadi full time blogger, dan bekerja di Apotek Randukuning, Pati, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>